Rabu, 29 Februari 2012

MAKALAH HADITS TARBAWI 2


MAKALAH
SUMBER ILMU PENGETAHUAN
( EPISTEMOLOGI )

Disusun guna memenuhi tugas :
         Mata Kuliah              :          Hadits Tarbawi II
         Dosen Pengampu      :          M. Ghufron Dimyati, M.S.I


STAIN.TIF



Oleh :

NUR KHOLIS
2021110014
A

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012
BAB I
PENDAHULUAN


Realita pendidikan dizaman sekarang ini, masih banyak dijumpai banyak orang yang kurang optimal dalam memanfaatkan alat inderawi yang Allah SWT. berikan kepada manusia untuk menggali ilmu pengetahuan dan kelangsungan hidupnya. Masih banyak dari kita yang lalai dalam menjadi nikmat (indera). Kita cenderung memakai alat indera kita untuk perbuatan-perbuatan yang tidak semestinya kita kerjakan. Seolah kita tidak percaya bahwa ada malaikat yang senantiasa mencatat amal perbuatan kita. Ketidakperdulian kita akan semakin parah seiring dengan berkembangnya zaman dan banyaknya godaan yang muncul untuk menggoyahkan keyakinan dan keteguhan hati jika kita tidak mengantisipasinya.
Nikmat yang indah ini adalah titipan yang harus kita jaga, harus kita pelihara, dan harus kita upayakan agar semaksimal mungkin bermanfaat sebagaimana mestinya, karena banyak hal yang dapat terlewati oleh indera akibat keterbatasan manusia. Maka dari itu, dalam makalah ini akan membahas lebih jelas lagi hadits mengenai dorongan untuk memanfaatkan panca indera.















BAB II
PEMBAHASAN


A.    Dorongan Untuk Memanfaatkan Panca Indera

  1. Hadits
عن عبد الله بمثله قال وكان يعلمنا كلمات ولم يكن يعلمناهن كما يعلمنا التشهد اللهم ألف بين قلوبنا وأصلح ذات بيننا واهدنا سبل السلام ونجنا من الظلمات إلى النور وجنبنا الفواحش ما ظهر منها وما بطن وبارك لنا في أسماعنا وأبصارنا وقلوبنا وأزواجنا وذرياتنا وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم واجعلنا شاكرين لنعمتك مثنين بها قابليها وأتمها علينا . صحيح

  1. Terjemah :
Dari Abdullah dengan hadits yang sama dia berkata: Beliau biasa mengajarkan kami beberapa kalimat, dan beliau tidak mengajarkannya kepada kami sebagaimana beliau mengajarkan tasyahud. Yaitu: Wahai Allah, rukunkanlah hati kami, damaikanlah diantara kami, tunjukilah kami kepada jalan kesejahteraan, selamatkanlah kami dari kegelapan menuju kebenaran, jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan keji yang terang dan yang samar, limpahkanlah berkah kepada kami, pada pendengaran, penglihatan, hati, isteri dan cucu kami, terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang, dan jadikanlah kami orang-orang yang mensyukuri nikmat Engkau, berterima kasih lagi menerimanya, dan sempurnakanlah ni’mat itu atas kami [1]

  1. Mufrodat (kata-kata penting)
ألف     : rukunkanlah
  قلب  : hati
  الظلمات: kegelapan
  النور      : cahaya
أسماع      : pendengaran
أبصار      : penglihatan
أزواج       : isteri
ذريات      : cucu

  1. Biografi Perawi
Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil bin Habib Al-Hudzali. Ibunya adalah Ummu Abd.Hudzailiyyah. Ibnu Mas’ud termasuk orang yang pertama masuk islam. Diriwayatkan bahwa dia orang keenam dari enam orang yang masuk islam. Dia orang orang yang pertama kali terang-terangan membaca Al-Qur’an di Mekkah. Dia hijrah ke Habasyah kemudian ke Madinah, ikut serta perang Badar bersama Rosulullah SAW. Biat Ar-Ridhwan dan semua peperangan. Bahkan ikut serta dalam perang Yarmuk setelah Rosulullah SAW. wafat. Rosulullah SAW. sangat mencintai dan memuliakannya. Dia adalah pelayan Rosulullah SAW. yang amanah, penjaga rahasianya, teman ketika mukim dan bepergian. Dia masuk setiap saat dan berjalan bersamanya. Dia membawakan siwak, sandal, dan air untuk bersuci Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wassalam. Dia termasuk Ulama’ besar dikalangan sahabat dan penghafal Al-Qur’an. Rosulullah SAW. menyifatinya dalam sabdanya, “sesungguhnya kamu adalah seorang anak yang berilmu” Umar bin Al-Khattab pernah memperhatikannya pada suatu hari lalu berkata, “bejana yang dipenuhi”.
Meriwayatkan dari Nabi SAW. sebanyak 848 hadits setelah Nabi SAW.wafat, dia menjadi penanggung jawab Baitul Mal di Kuffah, kemudian datang ke Madinah pada masa kekhalifahan Utsman, dan meninggal disana tahun 30 H ketika berusia sekitar 60 tahun. Semoga Allah SWT. meridhoi dan mencurahkan rahmat kepadanya.[2]

5.      Keterangan Hadits
Nabi SAW. biasa mengajarkan kami beberapa kalimat, selain tasyahhud yaitu:
اللهم ألف بين قلوبنا  ( wahai Allah, rukunkanlah hati-hati kami ) yaitu jadikanlah persatuan diantaranya, ( damaikanlah diantara kami ) yaitu perdamaian diantara kami.
 Ada suatu pendapat dalam kitab Al-Majma’: sesuatu pada dirinya dan sejatinya . Yang dimaksud sesuatu yang disandarkan kepadanya termasuk didalam perdamaian diantara orang-orang yang bertikai yaitu memperbaiki keadaan diantara kamu sekalian sehingga menjadi rukun, kasih sayang, dan kesepakatan. Berbeda ketika ada suatu keadaan tersebut melaksanakannya kepada permusuhan. Maka dikatakan kepadanya yaitu yang bermusuhan ( سبل السلام ) yang artinya jalan keselamatan ( وجنبنا الفواحش ) dan jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan jahat , yaitu dosa-dosa besar seperti zina ( sesuatu yang  jelas dan yang tidak jelas ) yaitu, jelas dan tersembunyi ( sempurnakanlah kalimatnya ). Suatu perkara dari kesempurnaan ( ketika kamu berkata ini atau memutuskan ini ).

6.      Syarah Hadits
 ( قد علم ) على البناء للمجهول من التعليم أي علم من الله تعالى ما لم يعلمه ( وكان يعلمنا كلمات )
 أي غير التشهد وهي اللهم ألف بين قلوبنا إلخ ( ألف بين قلوبنا )
 أي أوقع الألفة بينها ( وأصلح ذات بيننا )
 أي أصلح أحوال بيننا قال في المجمع ذات الشيء نفسه وحقيقته والمراد ما أضيف إليه ومنه إصلاح ذات البين  أي   إصلاح أحوال بينكم حتى يكون أحوال ألفة ومحبة واتفاق قال ولما كانت الأحوال ملابسة للبين قيل لها ذات البين   (  سبل السلام )
 جمع سبيل أي طرق السلامة ( وجنبنا الفواحش )
 أي الكبائر كالزنا ( ما ظهر منها وما بطن )
 أي علانيتها وسرها ( أتمها ) 
 أمر من الإتمام[3]

7.      Aspek Tarbawi
Hadits ini menjelaskan bahwa sumber ilmu pengetahuan berasal dari indera penglihatan (mata), pendengaran (telinga), dan kekuatan (hati) beserta pemeliharaannya yang bertujuan untuk menjaga keutuhan, fungsi, dan manfaat dari indera tersebut sesuai ketentuan yang benar yang pada akhirnya akan menjadikan kita semakin taat kepada Allah SWT.
Sebagai sumber ilmu pengetahuan, indera telah mampu mencakup semua ilmu pengetahuan, karena hanya dengan panca indera, lima dimensi dari berbagai bentuk fisik yang kita alami. Ole karena itu, kita harus mampu memanfaatkan alat indera semaksimal mungkin dan memeliharanya dari hal-hal yang tidak baik yang dapat menjerumuskan kita untuk melakukan keburukan.


BAB III
PENUTUP

Melalui hadits ini kita dituntut untuk dapat menggunakan alat inderawi semaksimal mungkin dalam mencari dan menggali ilmu pengetahuan, untuk kemudian ilmu tersebut dapat digunakan untuk menambah keyakinan dan keimanan kita kepada Allah SWT. serta dapat menuntut kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya, bukan malah menjauhkan diri kita dari jalan-Nya.
Kita telah mengetahui bahwa Allah SWT. memberikan kebebasan kepada kita untuk menggunakan panca indera. Namun kita tidak boleh lupa untuk memeliharanya dari hal-hal larangan-Nya, dan kita harus manyadari batasan-batasan yang telah ditentukan oleh-Nya.


DAFTAR PUSTAKA

Al- Asqolani Ibnu Hajr, 1995, Taqrib At- Tahdzib, (Beirut: Dar Al-Fikr).
Al-Bugha. Musthafa, dkk, 2008, syarah hadits arba’in, (Jakarta: Pustaka Al-kautsar.).
Al Mundziry. Hafidz, 1992, Tarjamah Sunan Abu Daud, (Semarang : CV. Asy-Syifa,).
Usman. Abdurrahman, 1979, Aunul Ma’but, Syarah Abu Daud, jilid 8. (Beirut: Dar Al-Fikr).



[1] Hafidz Al Mundziry, Tarjamah Sunan Abu Daud, (Semarang : CV. Asy-Syifa, 1992), Hal. 660
[2] Musthafa Al-bugha, dkk, syarah hadits arba’in ( Jakarta: Pustaka Al-kautsar. 2008 ). Hal. 471-472
[3] Abdurrahman Usman, Aunul Ma’but, Syarah Abu Daud, jilid 8. (Beirut: Lebanon, Dar Al-Fikr), Hal. 969